Sta-Erha di Kick Andy

Aside

Terima kasih kami ucapkan atas undangan yang diberikan oleh Mas Andy F. Noya pada kami  Guru dan Orang Tua murid untuk hadir di acara Kick Andy di Purwokerto. Terima kasih juga kami ucapkan atas apresiasi yang diberikan oleh Mas Andy kepada para Guru dan Orangtua Murid Sta-Erha Pabelan. Guru yang berkesempatan hadir dan mewakili Sta-Erha adalah Bu Tika,Pak Nur,Pak Aji dan Pak Jumri.

guru

guru 2

Kami membutuhkan sukarelawan

Salam untuk semua

Saat ini kami membutuhkan sukarelawan untuk membantu kami dalam bidang pendidikan ABK (anak berkebutuhan khusus) untuk menangani bidang Tuna Netra. Karena keterbatasan yang ada, adik-adik Tuna netra saat ini belum tertangani sepenuhnya dengan baik. Saat ini kami memiliki 3 murid tuna netra yang tentunya perlu penanganan khusus dan berbeda dari adik-adik ABK. Bagi Bapak/Ibu/Kakak yang memiliki waktu luang dan ingin membantu adik-adik kita yang membutuhkan, kami dengan senang hati akan menerima bantuan yang diberikan.

Terima kasihPengurus Sta-erha

 

Apa itu Fisioterapi?

Apa itu fisio terapi? Fisio terapi adalah terapi yang dilakukan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan motorik kasar (gross motor skill).

Kemampuan motorik kasar meliputi otot-otot besar pada seluruh tubuh yang memungkinkan tubuh melakukan fungsi berjalan, melompat, jongkok, lari, menendang, duduk tegak, mengangkat, dan melempar bola. Kemampuan motorik kasar sangat penting karena membuat tubuh bisa melakukan aktivitasnya, menjaga keseimbangan, koordinasi, dan lain-lain.

Kemampuan motorik kasar juga sangat berhubungan dengan fungsi fisik lainnya. Contohnya, kemampuan anak untuk menopang tubuh bagian atasnya akan berpengaruh pada kemampuannya menulis (motorik halus, fine motor skill). Anak-anak dengan kemampuan motorik kasar yang kurang, akan mempunyai kesulitan dengan kemampuan lain seperti menulis, duduk segera dari keadaan berbaring, memperhatikan aktivitas kelas, dan menulis di papan tulis.

Bagi mereka, aktivitas-aktivitas ini sangat memeras tenaga. Pada orang dewasa, biasanya fisio terapi diperlukan setelah trauma pada fisik (pasca kecelakaan, stroke, dan trauma lainnya yang menyebabkan performa fisik terganggu). Fisio terapi untuk orang dewasa ini umumnya tersedia di rumah sakit atau klinik fisio terapi yang memiliki alat-alat khusus untuk itu.

Autisme, Pengertian dan Definisinya

 

AutismeAutisme, Pengertian dan Definisinya. Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang Autisme seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Istilah Autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad lampau (Handojo, 2003).

Kartono (2000) berpendapat bahwa Autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar keasyikan ekstrim dengan fikiran dan fantasi sendiri.

Supratiknya (1995) menyebutkan bahwa penyandang autis memiliki ciri-ciri yaitu penderita senang menyendiri dan bersikap dingin sejak kecil atau bayi, misalnya dengan tidak memberikan respon ( tersenyum, dan sebagainya ), bila di ‘liling’, diberi makanan dan sebagainya, serta seperti tidak menaruh perhatian terhadap lingkungan sekitar, tidak mau atau sangat sedikit berbicara, hanya mau mengatakan ya atau tidak, atau ucapan-ucapan lain yang tidak jelas, tidak suka dengan stimuli pendengaran ( mendengarkan suara orang tua pun menangis ), senang melakukan stimulasi diri, memukul-mukul kepala atau gerakan-gerakan aneh lain, kadang-kadang terampil memanipulasikan obyek, namun sulit menangkap.

Kartono (1989) berpendapat bahwa Autisme adalah cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau diri sendiri, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri dan menolak realitas, oleh karena itu menurut Faisal Yatim (2003), penyandang akan berbuat semaunya sendiri, baik cara berpikir maupun berperilaku.

Autisme adalah gangguan yang parah pada kemampuan komunikasi yang berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun pertama, ketidakmampuan berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anak penyandang autis menyendiri dan tidak ada respon terhadap orang lain (Sarwindah, 2002).

Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat. Autisme berlanjut sampai dewasa bila tak dilakukan upaya penyembuhan dan gejala-gejalanya sudah terlihat sebelum usia tiga tahun.

Yuniar (2002) mengatakan bahwa Autisme tidak pandang bulu, penyandangnya tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan penyandang Autisme ialah 4 : 1.

Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain dan tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan.

Artikel Autisme, Pengertian dan Definisinya pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 13 Desember 2008.

(http://www.duniapsikologi.com/autisme-pengertian-dan-definisinya/)

Jumlah SLB di Bawah Satu Persen

Depok, Kompas – Kesempatan anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas menyelesaikan pendidikan dasar hanya 63 persen dibandingkan anak normal. Kesempatan kian kecil pada jenjang pendidikan tinggi.

”Data 2005/2006, jumlah SLB hanya 1.312 sekolah dari 170.891 sekolah biasa. Di bawah 1 persen. Itu pun mayoritas di Jawa dan di ibu kota provinsi atau kabupaten saja,” kata Ketua Pusat Kajian Disabilitas Universitas Indonesia (UI) Irwanto pada seminar ”Investasi dalam Kemampuan: Identifikasi Kesenjangan dan Rekonstruksi Pelayanan Terpadu untuk Orang dengan Disabilitas di Indonesia” di Pusat Kajian Perlindungan Anak UI, Depok, Jumat (22/2).

Meski pemerintah menyelenggarakan pendidikan inklusif, praktiknya pendidikan inklusif cenderung dipaksakan. Banyak sekolah inklusif tanpa guru khusus pendamping anak berkebutuhan khusus. Selain itu, anak berkebutuhan khusus pun diberi ruang belajar khusus dan tidak berbaur dengan siswa lain. ”Seperti SLB, tetapi di sekolah umum,” ujar Irwanto.

Diskusi juga membahas stigma masyarakat, antara lain penyandang disabilitas perlu dikasihani, tidak bisa mandiri, selalu tergantung, tak produktif, membebani keluarga, masyarakat, dan negara. Akibatnya, penyandang disabilitas diperlakukan sebagai kelompok yang butuh bantuan.

Program/kebijakan pemerintah terkait penyandang disabilitas diharapkan membantu penyandang disabilitas untuk hidup mandiri dan partisipatif di komunitasnya.

Persoalannya, program/kebijakan pemerintah kerap dibuat tanpa melihat kebutuhan, tetapi didasarkan asumsi. Oleh karena itu, penyandang disabilitas harus mampu menyampaikan suaranya sendiri. ”Paradigmanya harus diubah dari disabilitas menjadi abilitas,” kata Irwanto.

Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mudjito mengatakan, untuk membantu anak berkebutuhan khusus, tahun ini pemerintah memberi beasiswa Rp 84,3 miliar bagi anak berkebutuhan khusus di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMA luar biasa. Pemerintah juga membangun 30 pusat pengembangan layanan autis dan keberbakatan khusus di kota-kota besar.

Hasil sensus penduduk 2010, dari 237 juta penduduk Indonesia, jumlah anak berkebutuhan khusus usia sekolah (5-18 tahun) ada 355.859 anak. Dari jumlah itu, 74,6 persen belum memperoleh layanan pendidikan. Jumlah SDLB dan SMP 516 sekolah. Adapun SD dan SMP swasta 2.113 sekolah. (LUK)

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/23/02471270/Jumlah.SLB.di.Bawah.Satu.Persen. (Sabtu, 23 Februari 2013 | 02:47 WIB)